DI JODOHKAN: Bab 2 — Rencana yang Tersembunyi
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Reva.
Lampu kamar masih menyala, namun ia hanya berbaring menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya penuh, berputar pada satu hal yang sama—perjodohan.
“Kenapa harus aku…” gumamnya pelan.
Ia membalikkan tubuhnya, lalu menarik bantal dan memeluknya erat. Hatinya gelisah. Bukan hanya karena keputusan orang tuanya, tapi karena ia merasa… kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Reva bukan anak yang suka melawan. Tapi kali ini, ia tidak bisa diam.
“Aku nggak bisa biarin ini terjadi…” bisiknya lagi.
Ia menutup mata sejenak, mencoba berpikir jernih. Namun justru berbagai kemungkinan buruk terus muncul di kepalanya.
Bagaimana kalau dia dipaksa menikah?
Bagaimana kalau hidupnya dikendalikan orang lain?
Bagaimana kalau… dia tidak bahagia?
Reva langsung membuka matanya.
“Nggak. Aku harus lakukan sesuatu.”
Ia bangkit duduk. Napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi sorot matanya mulai berubah—dari bingung menjadi penuh tekad.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan… sampai akhirnya—
“Ah!” Reva menepuk tangannya pelan.
“Aku punya ide…”
Senyum kecil muncul di wajahnya. Sebuah rencana mulai terbentuk.
“Kalau aku sudah punya pacar… pasti Mama sama Papa nggak akan maksa lagi.”
Ia mengangguk-angguk sendiri, semakin yakin dengan pikirannya.
“Iya… itu satu-satunya cara.”
Namun senyumnya perlahan memudar.
“Tapi… siapa?” gumamnya.
Reva kembali terdiam.
Mencari pacar bukan hal yang mudah, apalagi dalam waktu singkat. Ia tidak mungkin asal menunjuk seseorang.
“Pura-pura aja?” pikirnya lagi.
Matanya kembali berbinar.
“Iya! Aku bisa pura-pura punya pacar!”
Ia tersenyum lebar kali ini, lebih percaya diri.
“Dengan begitu… perjodohan ini pasti batal.”
Untuk pertama kalinya sejak sore tadi, Reva merasa sedikit lega.
---
Di tempat lain, Roy duduk di salah satu sudut tempat tongkrongan favoritnya bersama teman-temannya.
Suasana ramai, penuh tawa dan suara musik, tapi Roy justru diam. Tangannya memegang botol minuman, namun tidak benar-benar diminum.
“Bro, lo kenapa sih? Dari tadi bengong aja,” tanya salah satu temannya.
Roy menghela napas panjang.
“Gue lagi ada masalah di rumah.”
Teman-temannya langsung memperhatikan.
“Apa lagi?” tanya yang lain.
Roy menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu berkata dengan nada kesal,
“Gue mau dijodohin.”
Seketika suasana berubah.
“Hah?! Serius lo?”
“Zaman sekarang masih ada yang gitu?”
“Terus lo mau?”
Roy langsung menggeleng.
“Nggak lah! Gue bahkan nggak kenal orangnya. Gimana bisa gue nerima?”
Ia mengepalkan tangannya pelan.
“Ini hidup gue… harusnya gue yang nentuin.”
Temannya mengangguk setuju.
“Terus lo mau ngapain?”
Roy terdiam sejenak.
Pertanyaan itu sederhana… tapi jawabannya tidak.
Ia tahu satu hal: dia tidak akan diam saja.
“Gue bakal nolak,” katanya tegas.
“Tapi kalau dipaksa?” tanya temannya lagi.
Roy menatap ke depan, matanya penuh keyakinan.
“Gue bakal cari cara… supaya ini batal.”
---
Malam itu, di dua tempat yang berbeda…
Dua orang dengan nasib yang sama sedang merencanakan hal yang sama.
Menolak.
Melawan.
Dan menggagalkan sesuatu yang bahkan belum benar-benar dimulai.
Tanpa mereka sadari…
Takdir sedang bersiap mempertemukan mereka.
---
Bersambung ke Bab 3 — Pertemuan yang Tidak Menyenangkan…
1 komentar untuk "DI JODOHKAN: Bab 2 — Rencana yang Tersembunyi"