DIJ ODOHKAN: Bab 7 — Rasa yang Tak Diakui

Hari itu dimulai seperti biasa.

Roy menunggu di depan rumah Reva, bersandar di motornya sambil memainkan kunci di tangannya.

Namun entah kenapa… hari itu terasa berbeda.

Ia sendiri tidak tahu kenapa.


Tak lama, Reva keluar dari rumah.

Namun Roy langsung menyadari sesuatu.

Reva terlihat… lebih rapi dari biasanya.

“Lama,” kata Roy seperti biasa, mencoba terdengar santai.

Reva memutar mata.
“Baru juga keluar.”

Roy mengangguk kecil, tapi matanya masih memperhatikan.

“Lo… beda,” katanya tiba-tiba.

Reva mengernyit.
“Beda gimana?”

Roy mengangkat bahu.
“Nggak tau. Lebih… niat aja.”

Reva langsung memalingkan wajah.
“Ya emang harus rapi, kan?”

Padahal dalam hatinya—

Dia sadar.

Dan entah kenapa… ia berharap Roy menyadarinya.


Di sekolah…

Seperti biasa, mereka jadi pusat perhatian.

Namun kali ini—

Situasi berubah.

Seorang laki-laki mendekat ke arah Reva.

“Reva,” panggilnya.

Reva menoleh.
“Oh, kamu…”

Roy yang berdiri di sampingnya langsung memperhatikan.

“Siapa?” tanya Roy singkat.

“Teman kelas,” jawab Reva.

Laki-laki itu tersenyum.
“Aku mau ngomong bentar sama Reva, boleh?”

Roy terdiam.

Ada sesuatu yang terasa… tidak nyaman.

Tapi ia tidak tahu kenapa.

“Iya, bentar ya,” kata Reva ke Roy.

Reva lalu berjalan menjauh bersama laki-laki itu.


Roy tetap di tempatnya.

Diam.

Tapi matanya mengikuti mereka.

Ia melihat mereka berbicara… tertawa kecil…

Dan tiba-tiba—

Perasaan aneh muncul.

Tidak enak.

Mengganggu.


“Kenapa gue jadi kesel…?” gumam Roy pelan.

Ia mengacak rambutnya sendiri.

“Ini kan cuma akting…”

Tapi perasaan itu tetap ada.


Beberapa menit kemudian, Reva kembali.

Roy langsung bertanya,
“Ngapain lama?”

Reva sedikit heran.
“Ngobrol aja.”

“Ngobrol apa?” tanya Roy cepat.

Reva mengernyit.
“Kenapa sih?”

Roy terdiam sejenak.

Ia tidak punya alasan.


“Ya… nggak apa-apa,” jawabnya akhirnya.

Nada suaranya datar.

Terlalu datar.


Reva memperhatikan wajah Roy.

“Aneh,” pikirnya.


Sore harinya…

Mereka duduk seperti biasa.

Namun suasana kali ini berbeda.

Lebih hening.


Reva akhirnya membuka suara.

“Lo kenapa sih dari tadi?”

Roy menggeleng.
“Nggak kenapa-kenapa.”

“Boong,” balas Reva cepat.

Roy menatapnya.

Untuk beberapa detik, mereka saling diam.


“Lo… deket ya sama dia?” tanya Roy akhirnya.

Reva sedikit kaget.
“Hah?”

“Tadi,” lanjut Roy.

Reva langsung mengerti.

“Oh… itu? Ya teman biasa.”

Roy mengangguk pelan.

Namun entah kenapa—

Ia masih tidak merasa lega.


Reva tiba-tiba tersenyum kecil.

“Kenapa? Cemburu?”

Roy langsung menatap tajam.
“Ngaco.”

Reva tertawa pelan.
“Kan cuma nanya.”

Roy mengalihkan pandangannya.
“Gue nggak mungkin cemburu.”

Jawabannya cepat.

Terlalu cepat.


Reva memperhatikan.

Lalu berkata pelan—

“Bagus.”

“Karena ini cuma akting… kan?”


Kalimat itu menggantung di udara.


Roy tidak langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia ragu.


Sementara itu, di dalam hati Reva—

Ada perasaan yang sama.

Aneh.

Membingungkan.

Dan semakin sulit diabaikan.


Malam itu…

Keduanya sama-sama terjaga.

Memikirkan hal yang sama.

Tanpa saling tahu—

Bahwa mereka sedang jatuh…

Perlahan.


Bersambung ke Bab 8 — Retak di Tengah Jalan 💔🔥

Posting Komentar untuk "DIJ ODOHKAN: Bab 7 — Rasa yang Tak Diakui"