DI JODOHKAN: Bab 10 — Saat Hati Bicara
Malam itu terasa sunyi.
Reva duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi layar ponsel yang sejak tadi tidak berubah.
Tidak ada pesan.
Tidak ada nama Roy muncul.
Sudah beberapa hari berlalu sejak mereka “berhenti”.
Dan setiap harinya…
Terasa lebih berat.
Reva menarik napas panjang.
“Harusnya aku udah biasa…” bisiknya.
Tapi kenyataannya…
Ia tidak biasa.
Ia membuka galeri ponselnya.
Tanpa sadar, ada beberapa foto—
Foto-foto yang diambil saat mereka bersama.
Tidak sengaja.
Tidak penting.
Tapi sekarang…
Semuanya terasa berarti.
Reva tersenyum kecil.
Lalu matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa aku baru sadar sekarang…” gumamnya.
Di tempat lain…
Roy berdiri di balkon rumahnya.
Angin malam berhembus pelan.
Namun pikirannya tidak tenang.
Ia mengingat semuanya.
Setiap percakapan.
Setiap tawa.
Setiap momen kecil bersama Reva.
“Gue… kangen,” katanya pelan.
Untuk pertama kalinya, ia mengakuinya.
Ia menutup mata.
“Gue salah…”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Tanpa ego.
Tanpa alasan.
Roy mengeluarkan ponselnya.
Menatap nama Reva.
Jarinya sempat berhenti di layar.
Ragu.
“Mau ngomong apa…”
Di sisi lain…
Reva juga memegang ponselnya.
Seolah menunggu sesuatu.
Yang tidak datang.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya—
Roy mengetik.
“Reva… kita bisa ngomong?”
Pesan terkirim.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Beberapa menit terasa seperti jam.
Reva melihat notifikasi itu.
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Ia membaca pesan itu berulang kali.
“Dia… chat aku…”
Tangannya gemetar sedikit.
Namun ia membalas.
“Mau ngomong apa?”
Roy langsung melihat balasan itu.
Ia menarik napas panjang.
“Ketemu bisa?”
Reva terdiam.
Namun kali ini…
Ia tidak menolak.
“Besok.”
Singkat.
Tapi cukup.
Keesokan harinya…
Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Taman.
Tempat di mana semuanya mulai terasa berbeda.
Suasana canggung.
Namun penuh arti.
Roy berdiri lebih dulu.
Reva datang beberapa detik kemudian.
Mereka saling menatap.
Untuk beberapa saat… tidak ada yang berbicara.
Akhirnya—
“Maaf.”
Mereka berbicara bersamaan.
Keduanya terdiam.
Lalu tersenyum kecil.
Roy mengusap tengkuknya.
“Gue duluan,” katanya.
Reva mengangguk pelan.
Roy menarik napas dalam.
“Gue salah waktu itu.”
Ia menatap Reva.
“Gue bilang semua ini bodoh… padahal…”
Ia terdiam.
Sulit untuk mengucapkannya.
Reva menunggu.
Jantungnya berdetak kencang.
“Padahal gue cuma takut,” lanjut Roy.
Reva sedikit terkejut.
“Takut… apa?”
Roy tersenyum pahit.
“Takut kalau ini bukan lagi akting.”
Hening.
Reva menatapnya dalam.
Roy melanjutkan, lebih pelan—
“Takut kalau gue beneran… suka sama lo.”
Dunia seperti berhenti.
Reva tidak langsung menjawab.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku juga…” bisiknya.
Roy terkejut.
“Hah?”
Reva tersenyum kecil.
“Awalnya aku kira ini cuma rencana…”
Ia menatap Roy.
“Tapi ternyata… aku juga ngerasain hal yang sama.”
Hening.
Namun kali ini… hangat.
Untuk pertama kalinya—
Mereka jujur.
Namun…
Belum selesai.
Reva menunduk pelan.
“Tapi… semuanya nggak sesederhana itu.”
Roy mengernyit.
“Maksudnya?”
Reva menatapnya lagi.
“Orang tua kita…”
Kalimat itu cukup.
Untuk mengingatkan—
Bahwa masalah mereka belum berakhir.
Perasaan mereka sudah jelas.
Namun jalan mereka…
Masih penuh rintangan.
Bersambung ke Bab 11 — Antara Hati dan Kewajiban ⚖️
Posting Komentar untuk "DI JODOHKAN: Bab 10 — Saat Hati Bicara"
Posting Komentar