DI JODOHKAN: Bab 8 — Retak di Tengah Jalan
Hari itu dimulai dengan suasana yang tidak biasa.
Tidak ada pesan dari Roy.
Tidak ada kabar seperti biasanya.
Reva menatap layar ponselnya berkali-kali.
Kosong.
“Kenapa dia nggak ngabarin…” gumamnya pelan.
Biasanya Roy sudah ada di depan rumahnya sejak pagi.
Tapi hari ini—tidak.
Reva akhirnya berangkat sendiri.
Sepanjang jalan, pikirannya tidak tenang.
“Dia kenapa sih…” pikirnya.
Di sekolah…
Reva melihat Roy.
Namun ada yang berbeda.
Roy tidak menghampirinya.
Bahkan… seolah menghindar.
Reva langsung berjalan mendekat.
“Roy,” panggilnya.
Roy berhenti, tapi tidak langsung menoleh.
“Apa?” jawabnya singkat.
Reva mengernyit.
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Roy dingin.
Jawaban yang sama.
Tapi kali ini terasa berbeda.
Lebih jauh.
Reva mulai kesal.
“Kalau nggak kenapa-kenapa, kenapa kamu jadi aneh gini?”
Roy akhirnya menatapnya.
Tatapannya… tidak seperti biasanya.
“Gue capek,” katanya.
Reva terdiam.
“Capek… apa?”
Roy tertawa kecil.
“Capek pura-pura.”
Kalimat itu menusuk.
Reva langsung tersentak.
“Maksud kamu?”
Roy melangkah mendekat sedikit.
“Semua ini—fake,” katanya tegas.
“Gue muak.”
Reva merasa dadanya seperti ditekan.
“Ini kan memang rencana kita…” suaranya mulai melemah.
Roy menggeleng.
“Iya. Tapi gue udah nggak mau lanjutin.”
Hening.
Reva menatap Roy, tidak percaya.
“Kenapa tiba-tiba?”
Roy terdiam sejenak.
Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
Tentang rasa yang mulai muncul.
Tentang kecemburuan yang tidak masuk akal.
Tentang perasaan yang… tidak seharusnya ada.
“Karena ini bodoh,” jawabnya akhirnya.
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Reva runtuh.
“Jadi selama ini… buat kamu semua ini cuma bodoh?” tanyanya pelan.
Roy tidak menjawab.
Reva tertawa kecil.
Tawa yang dipaksakan.
“Iya sih… dari awal juga cuma akting.”
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
“Ya udah,” lanjutnya pelan.
“Kalau kamu nggak mau lanjutin… kita berhenti.”
Roy menatapnya sekilas.
Ada sesuatu di matanya.
Penyesalan.
Tapi terlambat.
“Berhenti,” ulang Reva.
Tanpa menunggu jawaban, Reva berbalik dan pergi.
Langkahnya cepat.
Seolah ingin menjauh sejauh mungkin.
Roy tetap berdiri di tempat.
Diam.
“Gue… ngapain sih…” gumamnya pelan.
Ia mengacak rambutnya frustrasi.
Ia tahu… dia baru saja melakukan kesalahan.
Di sisi lain…
Reva masuk ke kamar mandi sekolah.
Ia menutup pintu, lalu bersandar.
Air matanya akhirnya jatuh.
“Kenapa… sakit banget…” bisiknya.
Ia memegang dadanya.
Perasaan itu—
Lebih dari sekadar “akting”.
Dan sekarang…
Semuanya hancur.
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Roy dan Reva benar-benar berjalan sendiri.
Tanpa satu sama lain.
Namun mereka tidak tahu—
Bahwa jarak ini…
Akan membuat mereka menyadari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Bersambung ke Bab 9 — Jarak yang Menyakitkan 💔
Posting Komentar untuk "DI JODOHKAN: Bab 8 — Retak di Tengah Jalan"
Posting Komentar