DI JODOHKAN: Bab 1 – Keputusan yang Dipaksakan
Sore itu, suasana rumah Roy terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada tawa santai seperti hari-hari sebelumnya. Papa dan Mama duduk di ruang keluarga dengan raut wajah serius, seolah ada sesuatu yang penting ingin mereka sampaikan.
Roy yang baru saja duduk, mulai merasa tidak nyaman.
“Roy…” suara Papanya memecah keheningan.
“Iya, Pah?” jawab Roy, mencoba tetap santai.
Papa menarik napas dalam-dalam, lalu berkata tegas,
“Papa dan Mama sudah memutuskan… kami ingin menjodohkan kamu dengan anak teman Papa.”
Sejenak, waktu seperti berhenti.
Roy mengernyit, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Hah? Maksud Papa… dijodohkan?” tanyanya, memastikan.
Mama mengangguk pelan.
“Iya, Nak. Kami pikir ini yang terbaik untuk masa depanmu. Kamu harus siap, ya.”
Roy langsung bangkit dari duduknya. Emosinya mulai naik.
“Nggak bisa gitu dong, Mah, Pah! Aku nggak mau dijodohkan! Aku bahkan nggak kenal orang itu. Aku punya hak untuk memilih siapa yang akan jadi pasangan hidupku!”
Ucapan itu membuat suasana semakin tegang.
Wajah Papa berubah keras.
“Kalau kamu tidak mau…” katanya dengan nada dingin,
“kamu bisa pergi dari rumah ini. Hidup saja di jalanan sana!”
Kalimat itu seperti petir di siang bolong.
Roy terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia tidak menyangka penolakannya akan dibalas dengan ancaman seperti itu.
Papa berdiri dan langsung pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh sedikit pun.
“Tunggu, Pah!” Mama mencoba menahan, namun sia-sia. Papa sudah terlanjur pergi.
Kini hanya tersisa Roy dan Mamanya.
Mama mendekat, menatap Roy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Roy… tolong mengerti, Nak. Mama nggak mau kamu diusir dari rumah ini. Mama cuma ingin yang terbaik untuk kamu…”
Namun kata-kata itu justru membuat Roy semakin bingung dan tertekan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Roy berbalik, mengambil kunci motornya, lalu pergi meninggalkan rumah.
Suara mesin motornya memecah kesunyian sore itu.
---
Di tempat lain, suasana serupa juga terjadi.
Reva sedang duduk santai di ruang keluarga, menonton televisi, ketika Papanya memanggil.
“Reva, sini sebentar. Papa sama Mama mau bicara.”
Reva mematikan televisi dan tersenyum.
“Iya, Pah. Ada apa?”
Papa menatapnya serius.
“Papa dan Mama sudah memikirkan ini baik-baik. Kami ingin menjodohkan kamu dengan anak teman Papa.”
Senyum Reva langsung hilang.
“Dijodohkan?” ulangnya pelan.
Mama mengangguk, berharap Reva bisa menerima.
“Iya, Nak. Ini demi kebaikan kamu juga.”
Reva menarik napas panjang.
“Maaf, Pah, Mah… Reva nggak bisa. Reva nggak mau dijodohkan. Reva juga punya hak untuk memilih pasangan hidup Reva sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban, Reva langsung berdiri dan pergi ke kamarnya.
Di ruang keluarga, Mamanya terlihat cemas.
“Gimana ini, Pah? Reva nggak mau…”
Papa menghela napas.
“Tenang saja. Papa akan cari cara untuk membujuk dia.”
---
Di dalam kamar, Reva merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tatapannya kosong menatap langit-langit.
“Kenapa harus aku…” gumamnya pelan.
Pikirannya penuh. Ia merasa terjebak dalam keputusan yang bukan miliknya.
“Aku harus melakukan sesuatu… tapi apa?” bisiknya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, matanya tiba-tiba berbinar.
“Ah!” Reva langsung duduk.
“Aku punya ide…”
Senyum kecil mulai terukir di wajahnya—sebuah rencana perlahan terbentuk di kepalanya.
Bersambung…
Posting Komentar untuk "DI JODOHKAN: Bab 1 – Keputusan yang Dipaksakan"
Posting Komentar