Di JODOHKAN: Pilihan Terakhir

(Tidak Semua Cinta Bisa Dimiliki) 

Langit sore itu kelabu.

Roy berdiri di taman, tempat yang dulu terasa hangat. Tangannya menggenggam ponsel, tapi tidak ada yang ia lakukan. Ia hanya menunggu.

Langkah kaki itu akhirnya datang.

Reva.

Pelan… ragu… tapi pasti.

Mereka saling menatap.

Dan dari cara Reva menatapnya—Roy tahu, ini tidak akan mudah.


“Aku sudah bicara sama Papa dan Mama…” kata Reva pelan.

Roy menahan napas.
“Dan…?”


Reva menarik napas dalam.

“Papa… nggak nolak kamu, Roy.”


Roy sedikit terkejut.
“Serius?”


Reva mengangguk.

“Papa bahkan bilang… dari awal dia memang lihat kita cocok.”


Ada harapan yang sempat muncul di mata Roy.

Namun hanya sebentar.


“Tapi…” lanjut Reva.

Satu kata itu… cukup untuk menjatuhkan segalanya.


“Papa bilang… kalau kamu serius, kamu harus datang bukan sebagai ‘pacar’.”


Roy mengernyit.
“Terus?”


Reva menatapnya dalam.

“Sebagai seseorang yang siap untuk masa depan aku.”


Hening.


Roy terdiam.

Ia mengerti maksudnya.

Bukan sekadar cinta.

Tapi kesiapan.


“Dan sekarang…” suara Reva mulai bergetar,
“Papa ngerasa… kamu belum di tahap itu.”


Roy menunduk.

Ia tidak bisa langsung membantah.

Karena jauh di dalam hatinya—

Ia tahu itu benar.


“Papa lagi sakit, Roy…” lanjut Reva pelan.

Roy langsung menatapnya.


“Bukan cuma fisik… tapi dia lagi takut.”

Air mata mulai jatuh dari mata Reva.

“Takut ninggalin aku tanpa kepastian.”


Hening.


“Dan karena itu…” suara Reva semakin pelan,
“Papa jadi pengen semua hal tentang aku… jelas.”


Roy menghela napas panjang.

Dadanya terasa berat.


“Terus… kita gimana?” tanyanya lirih.


Reva menggenggam tangannya sendiri.

Seolah menahan sesuatu yang ingin ia pertahankan.


“Aku… nggak bisa maksa keadaan sekarang, Roy…”


Kalimat itu pelan.

Tapi menghancurkan.


“Aku nggak bisa melawan Papa di saat dia lagi seperti ini,” lanjutnya.

“Dan aku juga… nggak bisa minta kamu nunggu sesuatu yang belum jelas.”


Roy menutup matanya sejenak.

Ia mengerti.

Dan itu yang membuat semuanya terasa lebih sakit.


“Jadi… ini pilihan kamu?” tanyanya pelan.


Reva mengangguk.

Air matanya tidak berhenti.


“Aku sayang kamu…” katanya.

“Justru karena itu… aku nggak mau kita bertahan dalam keadaan yang nggak pasti.”


Hening.


Roy tersenyum kecil.

Senyum yang penuh luka.


“Lo tahu yang paling nyakitin dari semua ini?” katanya pelan.


Reva menatapnya.


“Bukan karena kita harus pisah…”

Roy menatapnya dalam.

“Tapi karena… kita sama-sama mau.”


Air mata Reva jatuh semakin deras.


Roy menghela napas panjang.

Lalu melangkah mendekat.


Ia memeluk Reva.

Erat.


Bukan untuk menahan.

Tapi untuk mengingat.


“Aku harap…” bisik Reva di bahunya,
“suatu hari nanti… kita ketemu lagi di waktu yang tepat.”


Roy tersenyum pahit.

“Iya…”


Namun kali ini…

Tidak ada janji.


Perlahan, mereka melepaskan pelukan itu.


Untuk terakhir kalinya—

Mereka saling menatap.


Tidak ada kata “tunggu aku”.
Tidak ada kata “kita pasti bisa”.


Karena mereka tahu—

Cinta saja… tidak selalu cukup.


Reva berbalik lebih dulu.

Langkahnya pelan… tapi pasti.


Roy tetap berdiri.

Menatap punggung itu menjauh.


Sampai akhirnya—

Ia juga berbalik.

Ke arah yang berbeda.


Dan di antara langkah yang menjauh itu—

Tersisa satu hal yang tidak pernah hilang:

Perasaan.


Namun kali ini…

Mereka memilih untuk tidak memaksanya.


TAMAT / PENUTUP

Posting Komentar untuk "Di JODOHKAN: Pilihan Terakhir"