DI JODOHKAN: Bab 9 — Jarak yang Menyakitkan
Hari-hari setelah itu… terasa berbeda.
Aneh.
Sepi.
Pagi itu, Reva berangkat ke sekolah sendiri.
Tidak ada suara klakson di depan rumah.
Tidak ada seseorang yang menunggu sambil bersandar di motor.
Hanya dirinya.
Dan keheningan.
Di perjalanan, Reva mencoba bersikap biasa.
“Ini kan yang aku mau…” gumamnya pelan.
Tidak ada lagi akting.
Tidak ada lagi kepura-puraan.
Semua sudah selesai.
Harusnya… ia lega.
Tapi kenapa justru terasa kosong?
Di sekolah…
Reva melihat Roy dari kejauhan.
Seperti biasa.
Tapi kali ini, mereka tidak saling mendekat.
Tidak saling menyapa.
Seolah… tidak pernah terjadi apa-apa.
Roy juga melihat Reva.
Namun ia hanya diam.
Kakinya terasa berat untuk melangkah.
“Deketin aja…” bisik hatinya.
Tapi egonya menahan.
Hari itu…
Mereka berada di tempat yang sama.
Tapi terasa seperti dunia yang berbeda.
Saat istirahat…
Reva duduk sendiri di kantin.
Biasanya, kursi di depannya selalu terisi.
Sekarang kosong.
Tanpa sadar, ia menatap kursi itu lebih lama.
“Harusnya aku biasa aja…” pikirnya.
Tapi justru kenangan-kenangan kecil muncul.
Tentang tawa mereka.
Tentang percakapan sederhana.
Tentang perhatian kecil yang dulu terasa biasa…
Sekarang terasa berarti.
Reva menunduk.
Nafasnya berat.
“Aku… kenapa jadi gini sih…”
Di sisi lain…
Roy duduk bersama teman-temannya.
Namun ia tidak benar-benar ada di sana.
Tawa teman-temannya terdengar jauh.
“Bro, lo kenapa sih? Dari tadi diem aja,” tanya salah satu temannya.
Roy menggeleng.
“Nggak apa-apa.”
“Pasti soal cewek itu, ya?” goda temannya.
Roy langsung menatap tajam.
“Bukan.”
Jawaban cepat.
Terlalu cepat.
Temannya hanya tertawa kecil.
“Iya, iya… bukan.”
Roy menghela napas panjang.
Ia bersandar ke kursi.
Matanya tanpa sadar mencari satu orang.
Reva.
Dan saat ia melihatnya…
Duduk sendiri.
Diam.
Ada sesuatu yang terasa menusuk.
“Harusnya gue yang duduk di situ…” pikirnya.
Ia menunduk.
Menyesal.
Tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Sore hari…
Hujan turun tiba-tiba.
Deras.
Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.
Reva berdiri di depan sekolah, menunggu hujan reda.
Ia lupa membawa payung.
Beberapa meter darinya…
Roy juga berdiri.
Ia melihat Reva.
Diam.
Tangannya menggenggam payung.
Langkahnya sempat maju sedikit…
Lalu berhenti.
“Kasih aja…” bisik hatinya.
“Tapi… buat apa?” jawab pikirannya.
Reva menatap hujan.
Matanya kosong.
Namun di dalamnya…
Penuh.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya, Roy berbalik.
Dan pergi.
Reva tidak melihatnya.
Namun entah kenapa…
Hatinya terasa semakin berat.
Hujan masih turun.
Dan di antara derasnya air yang jatuh—
Ada dua hati…
Yang sama-sama ingin kembali.
Tapi sama-sama tidak berani.
Bersambung ke Bab 10 — Saat Hati Bicara ❤️
Posting Komentar untuk "DI JODOHKAN: Bab 9 — Jarak yang Menyakitkan"
Posting Komentar