DI JODOHKAN: Bab 11 — Antara Hati dan Kewajiban
Hari itu, suasana terasa lebih tegang dari biasanya.
Roy duduk di ruang keluarga, berhadapan dengan Papa dan Mamanya.
Wajah mereka serius.
Tidak ada senyum.
“Roy,” kata Papanya tegas,
“Papa dengar kamu sempat ingin membatalkan perjodohan ini?”
Roy terdiam.
Ini momen yang tidak bisa ia hindari lagi.
“Iya, Pah,” jawabnya akhirnya.
Mama langsung menatapnya cemas.
“Kenapa, Nak? Bukannya kamu sudah mulai dekat dengan Reva?”
Roy menelan ludah.
Dekat…?
Lebih dari itu.
Roy mengangkat wajahnya.
“Kali ini… bukan karena aku nggak mau dijodohkan.”
Papanya mengernyit.
“Lalu?”
Roy menarik napas dalam.
“Karena aku mau milih sendiri.”
Hening.
“Dan aku… milih Reva.”
Mama terlihat terkejut.
Papa tetap diam, namun tatapannya tajam.
“Maksud kamu apa?” tanya Papa pelan.
Roy menatap lurus.
“Aku suka Reva. Bukan karena perjodohan. Tapi karena aku sendiri yang ngerasain itu.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Papa akhirnya berdiri.
“Kalau begitu… kamu siap dengan semua konsekuensinya?”
Roy mengernyit.
“Konsekuensi apa?”
Papa menatapnya dalam.
“Cinta itu tidak cukup.”
Kalimat itu menggantung.
Di tempat lain…
Reva juga sedang menghadapi hal yang sama.
“Reva, Mama mau kamu jujur,” kata Mamanya lembut.
“Kamu sebenarnya bagaimana dengan Roy?”
Reva menunduk.
Tangannya saling menggenggam.
“Reva…”
Reva akhirnya mengangkat wajahnya.
“Aku… suka sama dia, Mah.”
Mama terdiam.
Namun bukan marah.
Lebih seperti… khawatir.
“Tapi…” lanjut Reva,
“aku nggak mau ini terjadi karena paksaan.”
Papanya yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Jadi kamu mau apa?”
Reva menatap mereka.
Dengan mata yang penuh keyakinan—
“Kalau aku sama dia… aku mau itu karena pilihan kami. Bukan karena dijodohkan.”
Hening.
Papanya menghela napas panjang.
“Dari awal, kami menjodohkan kalian bukan tanpa alasan.”
Reva terkejut.
“Maksud Papa?”
“Karena kami percaya… kalian cocok.”
Reva terdiam.
“Mungkin cara kami salah,” lanjut Papa pelan.
“Tapi tujuan kami… bukan untuk memaksa.”
Air mata mulai jatuh dari mata Reva.
Di sisi lain…
Roy masih berdiri di hadapan Papanya.
“Kalau kamu benar-benar serius…” kata Papa,
“buktikan.”
Roy mengernyit.
“Buktikan gimana?”
“Bahwa ini bukan sekadar perasaan sesaat.”
Roy terdiam.
Untuk pertama kalinya—
Ia sadar.
Cinta bukan hanya tentang perasaan.
Tapi juga tentang keberanian untuk memperjuangkan.
Malam itu…
Roy dan Reva berada di tempat yang berbeda.
Namun dengan pikiran yang sama.
Mereka sudah tahu apa yang mereka rasakan.
Namun sekarang—
Mereka harus memilih.
Mengikuti hati…
Atau menyerah pada keadaan.
Dan keputusan itu—
Akan menentukan segalanya.
Bersambung ke Bab 12 — Pilihan Terakhir 💖 / 💔
Posting Komentar untuk "DI JODOHKAN: Bab 11 — Antara Hati dan Kewajiban"
Posting Komentar