DI JODOHKAN: Bab 5 — Kesepakatan Tanpa Perasaan
Roy dan Reva masih berdiri di halaman rumah, jauh dari suara obrolan orang tua mereka yang masih berlangsung di dalam.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam.
Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan…
tapi karena mereka sama-sama sedang berpikir.
Tentang hal yang sama.
Perjodohan.
---
Reva akhirnya memecah keheningan.
“Jadi… kita sepakat, ya? Kita nggak akan lanjut ini.”
Roy mengangguk tanpa ragu.
“Jelas.”
Ia menatap Reva sekilas, lalu menambahkan,
“Gue nggak bakal nikah sama orang yang bahkan gue nggak kenal.”
Reva menyilangkan tangan.
“Bagus. Soalnya aku juga nggak mau hidupku ditentukan orang lain.”
Nada mereka masih sama—tegas, dingin, dan penuh penolakan.
Namun kali ini, mereka tidak lagi berlawanan.
---
Reva melangkah sedikit mendekat.
“Kalau gitu, kita harus punya rencana.”
Roy mengangkat alis.
“Rencana gimana?”
Reva menarik napas pelan, lalu berkata,
“Kita pura-pura setuju di depan orang tua.”
Roy langsung menatapnya tajam.
“Terus?”
“Terus kita cari cara supaya mereka sendiri yang batalin perjodohan ini.”
Roy terdiam sejenak.
Ia memikirkan ide itu.
Masuk akal.
Kalau mereka menolak terus terang, yang ada malah konflik semakin besar. Tapi kalau mereka terlihat “setuju”… orang tua mereka akan lengah.
“Hm…” gumam Roy.
Reva menatapnya penuh harap.
“Gimana?”
Roy akhirnya mengangguk.
“Oke. Gue ikut.”
Senyum kecil muncul di wajah Reva.
“Berarti… kita kerja sama.”
Roy menatapnya sebentar, lalu mengulurkan tangan.
“Kerja sama.”
Reva sempat ragu sesaat… lalu menjabat tangan itu.
Singkat.
Tapi cukup untuk mengikat kesepakatan.
---
Namun Reva langsung menarik tangannya lagi.
“Tapi ada satu syarat.”
Roy mengernyit.
“Apa?”
Reva menatapnya serius.
“Kita nggak boleh baper.”
Roy langsung tertawa kecil.
“Tenang aja. Gue juga nggak ada niat.”
Reva mendengus.
“Bagus.”
Roy membalas cepat,
“Lo juga jangan berharap apa-apa dari gue.”
Reva langsung menatap sinis.
“Siapa juga yang berharap?”
Mereka saling diam… lalu—
Entah kenapa, suasana jadi sedikit canggung.
---
Beberapa detik berlalu.
Roy berdehem pelan.
“Jadi… langkah pertama?”
Reva berpikir sejenak.
“Kita mulai dari besok. Kita harus kelihatan… dekat.”
Roy menghela napas.
“Fake relationship?”
Reva mengangguk.
“Exactly.”
Roy menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
“Gila juga rencana lo.”
Reva menyeringai.
“Daripada dijodohin beneran?”
Roy tidak bisa membantah.
---
Dari dalam rumah, suara Mama Reva terdengar memanggil.
“Reva! Roy! Kalian di luar saja?”
Reva dan Roy saling melirik.
“Mulai sekarang?” tanya Roy pelan.
Reva tersenyum tipis.
“Mulai sekarang.”
---
Mereka berjalan masuk bersama.
Dan untuk pertama kalinya…
Reva mendekat sedikit ke Roy.
Roy sempat kaget, tapi tidak menjauh.
Di depan orang tua mereka—
Reva tersenyum manis.
“Maaf ya, tadi kami ngobrol sedikit.”
Roy menambahkan,
“Iya, kami lagi saling kenal.”
Kedua orang tua langsung tersenyum senang.
“Itu bagus sekali,” kata Papa Roy.
Reva melirik Roy sekilas.
Roy membalas dengan ekspresi datar… tapi matanya seperti berkata—
“Kita mulai permainan ini.”
---
Namun tanpa mereka sadari…
Apa yang mereka anggap hanya “permainan”—
Perlahan akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.
---
Bersambung ke Bab 6 — Batas yang Mulai Kabur 💫
Posting Komentar untuk "DI JODOHKAN: Bab 5 — Kesepakatan Tanpa Perasaan"
Posting Komentar